Forum Alumni SMA NEGERI 2 Banda Aceh

Anda alumni, guru, siswa/i SMA Negeri 2 Banda Aceh? atau anda tertarik bergabung bersama kami. Jangan ragu jika belum mendaftar, silakan klik Register! Kunjungi laman resmi http://sman2bna.sch.id dan follow @smanda2bna

Wadah Komunikasi daring bagi Alumni dan Siswa SMA NEGERI 2 Banda Aceh


    Muslim Rohingya, Siapa Peduli Mereka?

    Share
    avatar
    hack87
    Pengawas SMA
    Pengawas SMA

    Male Number of posts : 665
    Age : 30
    Tahun Masuk SMA 2 : 2002
    Tahun Lulus SMA 2 : 2005
    Lokasi Sekarang : Jakarta
    Reputation : 1
    Points : 100
    Registration date : 12.03.08

    Muslim Rohingya, Siapa Peduli Mereka?

    Post by hack87 on Mon Feb 09, 2009 5:32 pm


    Permulaan tahun 2009, pekan kedua
    bulan Januari dan awal Februari, Aceh kedatangan ratusan tamu luar
    negeri yang dibuang oleh negaranya sendiri. Sungguh malang nasib tamu
    yang terkenal dengan sebutan “manusia perahu” ini. Di negeri asalnya
    disiksa dan dizalimi, di negeri tetangga diusir dan dibuang. Dan
    sekarang, tamu yang merupakan Muslim Rohingya itu terdampar diperairan
    Sabang dan Idi Rayeuk, Nanggroe Aceh Darussalam. Akankah mereka akan
    mengalami nasib serupa dari pemerintah kita?
    Manusia tanpa negara
    Etnis Rohingya adalah orang-orang tanpa kewarganegaraan yang
    mendiami kawasan perbatasan antara Myanmar-Bangladesh. Di Myanmar
    mereka mengalami penganiayaan dan siksaan yang brutal dari rezim junta
    militer. Inilah yang memaksa mereka menjadi manusia perahu yang
    berlayar dari satu negara ke negara lain, terutama Thailand, Malaysia
    dan Indonesia, untuk mencari tempat penghidupan yang lebih baik. Selain
    Myanmar, Thailand adalah negeri yang paling tidak bersahabat dengan
    orang Rohingya. Pemerintah negeri yang dulu bernama Siam itu selalu
    bertindak keras dan kasar bahkan mengarah ke pembantaian.
    Muslim Rohingya adalah keturunan Bengali, Panthay dan campuran
    Burma-Cina. Sejak abad ke-7 Masehi mereka telah mendiami kawasan
    Arakan, sebuah wilayah seluas 14.200 mil persegi yang terletak di Barat
    Myanmar. Walau tinggal di kawasan yang masuk wilayah Myanmar, namun
    junta militer tidak mengakui kewarganegaraan mereka. Oleh sebab itu,
    mereka disebut juga dengan manusia tak bernegara atau orang tanpa
    kewarganegaraan (stateless people).
    Sebagai Muslim yang hidup di bawah tekanan junta militer, tak mudah
    bagi etnis Rohingya menjalankan keyakinan mereka. Ratusan masjid dan
    madrasah di wilayah mereka dihancurkan, Al-Qur’an sebagai kitab suci
    dinjak-injak dan dibakar para tentara yang brutal. Perlakuan tak
    manusiawi ini membuat mereka berontak. Untuk menyelamatkan diri dan
    akidah, mereka melarikan diri dari tanah kelahirannya.
    Muslim Rohingya termasuk dalam daftar pengungsi terbesar di dunia.
    Bangladesh adalah salah satu negara yang menampung mereka. Menurut data
    UNHCR, organisasi PBB yang mengurusi masalah pengungsi, jumlah
    pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp UNHCR Bangladesh mencapai
    28 ribu orang. Di luar itu, lebih dari 200 ribu orang yang tak terdata.
    Mereka memilih hidup sebagai manusia perahu.
    Karena tak ada tempat berpijak lagi, umat Islam yang terusir dari
    tanah kelahirannya ini memilih tinggal di atas perahu. Berlayar dari
    satu tempat ke tempat yang lain. Kadang mereka juga mendiami beberapa
    pulau kosong yang terdapat sepanjang perbatasan Myanmar-Thailand. Walau
    hidup susah, namun di pulau-pulau tak bernama ini mereka lebih leluasa
    menjalani hidup. Beberapa ormas dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)
    internasional kadang memberikan mereka bantuan pangan, obat-obatan
    maupun fasilitas pendidikan dan kesehatan.
    Nasib Manusia Perahu di Aceh
    Sebelum ditemukan terkatung-katung di tengah laut tanpa persediaan
    makanan oleh nelayan dan TNI AL, ratusan manusia perahu ini ditangkap
    oleh militer Thailand tepatnya di wilayah perairan Laut Andaman dan
    menahan mereka secara rahasia di sebuah pulau bernama Koh Sai Daeng.
    Usai ditahan selama beberapa hari, kaum Muslimin yang tak berdaya
    ini kemudian diseret ke tengah laut lalu dintinggalkan di atas kapal
    tanpa mesin. Bahkan sebagian hanya ditinggali dayung. Tak ayal,
    sebagian besar manusia “tanpa negara” ini hilang dan mati tenggelam.
    Sekarang ratusan “manusia perahu” yang juga beragama Islam telah
    tiba di Serambi Mekkah setelah ditemukan oleh nelayan setempat (Sabang
    dan Idi Rayeuk) . Kisah pilu manusia perahu itu membuat masyarakat Aceh
    sadar dan rasa ingin membantu. Yang paling memilukan adalah mereka
    harus membuang 22 saudara mereka yang meninggal ke laut lepas. Mereka
    meninggal karena kelaparan dan tidak adanya persediaan logistik di
    tengah laut.
    Namun, bagaimana nasib mereka selanjutnya setelah terdampar di negeri yang hampir seratus persen penduduknya beragama Islam?
    Seperti yang diberitakan detiknews (02/02/09), Pemerintah Indonesia
    akan segera mendeportasi “manusia perahu” ke negera asal mereka,
    Myanmar. Pemerintah menyimpulkan bahwa manusia perahu yang terdampar di
    Sabang diduga kuat bermotif ekonomi (economy migrant) .
    Namun, seperti yang dituliskan Junaidi Beuransyah (acehlong.com),
    kesimpulan yang diambil pemerintah dalam proses pendataan dan
    investigasi terkesan dan terdapat adanya manipulasi. Pemerintah
    cendrung melibatkan International Organization for Migration(IOM)
    ketimbang UNHCR dalam menangani Muslim Rohingya. Seharusnya Pemerintah
    harus bekerjasama dengan pihak badan resmi PBB United Nation High
    Commision for Refugee(UNHCR) karena ini tugas dan wewenangnya mengurusi
    para pengungsi.
    Keterlibatan IOM semata tanpa adanya pihak UNHCR soal penanganan
    pengungsi Myanmar ini sebenarnya belum sempurna segi keakuratan data
    dan informasi. Akibatnya mencuat isu dari politik berubah kemotif
    ekonomi. Kita yakin bahwa warga Rohingya yang terseret arus laut di
    perairan Aceh itu adalah bahagian dari keburukan politik dan penindasan
    penguasa junta militer.
    Kita sangat memahami penyebab buruknya ekonomi itu merupakan akibat
    dari runyamnya situasi politik sehingga membuat para manusia perahu itu
    harus hijrah menyelamatkan diri sekaligus memperbaiki ekonomi dari luar
    negaranya.
    Dengan kata lain, persoalan politik dan ekonomi yang sedang dihadapi
    para pengungsi politik dimanapun di dunia, merupakan dua sisi kehidupan
    antara keselamatan nyawa dan perubahan hidup. Jika perlindungan telah
    ada, maka secara otomatis akan menyusul dengan perbaikan nasib untuk
    hidup secara ekonomi. Singkatnya dua hal tersebut tak mungkin
    terpisahkan dan itu fakta.
    Himbauan untuk Pemerintah

    Kita meminta kepada Pemerintah Indonesia supaya mempertimbangkan
    kembali niatnya untuk mendeportasikan Muslim Rohingya agar keselamatan
    mereka terjamin. Departemen luar negeri kiranya perlu melihat secara
    lebih teliti bahwa kehadiran mereka ke Indonesia itu masih dalam
    konteks politik negara Myanmar yang begitu parah yang menyebabkan
    mereka tertindas dan keluar dari negaranya untuk mencari perhatian dan
    perlindungan politik dunia internasional. Mereka perlu dilindungi
    secara politik oleh Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah diharapkan
    menyambut baik semua manusia perahu dengan memberikan status negara
    kedua dan pemberian suaka kepada mereka sambil menunggu adanya jaminan
    keamanan yang menyeluruh dari negara ketiga.
    Nasib manusia perahu sangat memerlukan perhatian dan bantuan dari
    Pemerintah Indonesia. Mereka itu (etnis muslim minoriti) golongan
    tertindas dan diusir dari negaranya akibat perlakuan penguasa junta
    militer yang cukup ganas. Sekarang mereka sudah terselamatkan dalam
    wilayah hukum negara Indonesia atau mereka kini berada di negara kedua.
    Karena itu perlindungan dan keselamatan harus diberikan kepada mereka
    dan bukannya membuang mereka kembali ke negara asalnya.
    Sebaiknya Pemerintah Indonesia sesegera mungkin mencari jalan
    terbaik bagi menangani pengungsi tersebut. Pemerintah sangat diharapkan
    segera mengambil langkah positif untuk mengizinkan dan mengundang pihak
    UNHCR guna mempercepat penanganan mereka dan selanjutnya diterbangkan
    kenegara ketiga. Nasib dan derita yang mereka alami saat ini sungguh
    memprihatinkan. UNHCR adalah lembaga paling tepat untuk mengurusi
    mereka yang berstatus pelarian politik.
    avatar
    hack87
    Pengawas SMA
    Pengawas SMA

    Male Number of posts : 665
    Age : 30
    Tahun Masuk SMA 2 : 2002
    Tahun Lulus SMA 2 : 2005
    Lokasi Sekarang : Jakarta
    Reputation : 1
    Points : 100
    Registration date : 12.03.08

    Re: Muslim Rohingya, Siapa Peduli Mereka?

    Post by hack87 on Fri Apr 17, 2009 1:16 pm

    sedih gak da yang peduli ini...

      Waktu sekarang Wed Nov 22, 2017 4:15 am