Forum Alumni SMA NEGERI 2 Banda Aceh

Anda alumni, guru, siswa/i SMA Negeri 2 Banda Aceh? atau anda tertarik bergabung bersama kami. Jangan ragu jika belum mendaftar, silakan klik Register! Kunjungi laman resmi http://sman2bna.sch.id dan follow @smanda2bna

Wadah Komunikasi daring bagi Alumni dan Siswa SMA NEGERI 2 Banda Aceh


    Keracunan Siomay

    Share
    avatar
    hack87
    Pengawas SMA
    Pengawas SMA

    Male Number of posts : 665
    Age : 30
    Tahun Masuk SMA 2 : 2002
    Tahun Lulus SMA 2 : 2005
    Lokasi Sekarang : Jakarta
    Reputation : 1
    Points : 100
    Registration date : 12.03.08

    Keracunan Siomay

    Post by hack87 on Fri Jun 13, 2008 8:51 pm

    Sedikitnya 35 murid SLTP keracunan seusai menyantap siomay yang dijual pedagang keliling di sekolahnya. Anak-anak yang menjadi korban, 34 siswa SMP Negeri 1 dan seorang murid MIN Simpang Kramat, Aceh Utara.

    Peristiwa ini diduga karena saos bumbu penyedap siomay sudah kadaluwarsa. Polsek Simpang Kramat bekerja sama dengan Polres Lhokseumawe mengamankan tiga orang terkait kasus tersebut. Mereka terdiri pedagang siomay dan dua orang pedagang saos.

    Menurut Dinas Pendidikan Aceh Utara, anak-anak yang keracunan adalah 34 murid, di antaranya 21 dirawat dan sisanya 13 murid hanya mengeluhkan pusing-pusing. Sedangkan Polsek Simpang Kramat menyebutkan para korban, 34 siswa SMPN 1 Simpang Kramat tapi ada lagi seorang murid MIN Simpang Kramat juga menjadi korban.

    Informasi yang dihimpun Harian Aceh menyebut, keracunan tersebut berawal saat para siswa itu menyantap siomay yang dijual oleh Ibrahim M. Adam, 43, warga Lhok Mon Puteh, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe. Hari itu, seperti hari-hari yang lain, sekitar pukul 10.30 WIB atau jam istirahat belajar, para murid ini menyantap siomay dagangan Ibrahim yang diperdagangkan di pekarangan SMPN 1 Simpang Kramat.

    Tidak lama setelah menikmati siomay, para murid langsung merasa pusing disusul muntah-muntah. Satu per satu mereka bertumbangan sehingga pihak sekolah dan warga setempat segera membawa korban ke Puskesmas Simpang Kramat. Karena jumlah korban keracunan terus bertambah, pihak Puskesmas yang kewalahan memberikan pelayanan akhirnya membawa para korban ke Rumah Sakit Cut Mutia di Buket Rata, Lhokseumawe.

    Dalam waktu singkat, ruangan ICU RS Cut Mutia sudah sesak dengan pasien puluhan murid yang keracunan itu. Mereka langsung diopname dan diberikan obat antasit untuk menetralkan lambung. Paramedis RS Cut Mutia tampak berjuang ekstra keras melayani para korban. Kondisi semakin bertambah panik karena saat itu puluhan keluarga korban sudah menyesaki ruangan ICU RS Cut Mutia.

    Mengetahui puluhan murid bertumbangan karena keracunan setelah makan siomay, petugas dari Polsek Simpang Kramat langsung mengamankan pedagang keliling siomay, Ibrahim M. Adam bersama sepeda motor Honda Supra Fit X BL 4423 NG yang memuat dagangannya itu.

    Setelah dilakukan penggeledahan, ditemukan saos cabe merk Dena yang sudah kadaluwarsa. Saos cabe tersebut merupakan salah satu bumbu penyedap rasa makanan khas China itu.

    “Saya tidak tahu kalau saos itu sudah kadaluarsa. Saos itu saya beli di sebuah toko di Keude Cunda (Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe) pada Minggu kemarin (8/6) sebanyak 20 kantong (bungkusan). Saya selalu belanja di toko itu, sebelumnya tidak pernah kejadian seperti ini,” kata Ibrahim M. Adam, yang mengaku sudah setahun berjualan siomay di pekarangan SMPN 1 Simpang Kramat.

    Berdasarkan keterangan Ibrahim, petugas Polsek Simpang Kramat bekerja sama dengan Polres Lhoskeumawe, langsung meluncur ke Keude Cunda, Lhokseumawe. Dipimpin Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Ricky P. Kertapati, sekitar pukul 13.10 WIB, petugas mendatangi toko Brivo Jaya, di Keude Cunda, tempat Ibrahim membeli saos.

    Setelah melakukan penggeledahan di toko Brivo Jaya, petugas menemukan 21 kardus berisikan saos cabe merk Dena. Setiap kardus berisikan 20 bungkus saos cabe merk Dena. Setelah diteliti tampak dengan jelas masa berlaku saos cabe merk Dena itu bervariasi. Ada yang masa berlakunya berakhir tahun 1993, 1995, 1997, 2005, dan 2007. Anehnya, di kardus pembungkus saos merk Dena itu tertulis bahwa produk saos cabe itu dikeluarkan pada 14 Mei 2008.

    Di kardus pembungkus saos itu juga tertulis: ‘Diproduksi oleh PT Duta Ayumas Persada Deli Serdang–Namorambe Medan’. “Saos itu kami beli dari toko RBA Jaya di Medan. Terakhir kami beli pada 13 Mei 2008 sebanyak 80 kardus. Tiap kardus berisikan 20 bungkus saos. Yang beli saos ini banyak, tapi selama ini tidak ada laporan (kadaluarsa). Kami juga tidak tahu kalau ternyata saos itu sudah kadaluwarsa,” kata seorang pekerja di toko Brivo Jaya.

    Petugas kemudian menyita 21 kardus berisikan saos cabe merk Dena yang sudah kadaluwarsa dari toko Brivo Jaya. Selain itu, petugas juga menggiring pemilik toko Brivo Jaya, H. Yunus, dan seorang anaknya, Safrizal, bersama Ibrahim M. Adam pedagang keliling siomay ke Mapolres Lhokseumawe untuk pemeriksaan lebih lanjut. Safrizal ikut diamankan karena hasil pengakuan Ibrahim, ia membeli saos itu pada Safrizal.

    “Untuk sementara, tiga orang yang kami amankan untuk dimintai keterangan terkait kasus keracunan para murid SMPN 1 Simpang Kramat. Ibrahim M. Adam selaku pedagang siomay, dua lagi yaitu H Yunus dan Safrizal selaku pemilik toko yang menjual saos sudah kadaluwarsa dan penjual saos itu kepada Ibrahim,” kata Kasat Reskrim AKP Ricky P. Kertapati.

    Ricky mengatakan penjualan saos yang sudah kadaluwarsa termasuk tindak pidana. “Yang bersangkutan dapat dijerat dengan UU Perlindungan Konsumen. Karena pemilik toko Brivo Jaya mengaku saos itu dibeli dari Medan, maka kita akan cros cek ke pabrik pembuat saos itu di Medan terkait saos yang sudah kadaluarsa,” katanya.(irs)
    Pat Aneuk Lon...

    Tak seperti biasanya, ruangan ICU Rumah Sakit Cut Mutia di Buket Rata, Lhokseumawe, Selasa (10/6) tampak ramai. Seorang perempuan menerobos masuk dengan menjerit histeris.

    “Pat aneuk lon, ho ka. Hana lagoe di sinoe,” ujarnya sembari menangis. Dia mencari anaknya.

    Perempuan itu adalah Nurbeti, 45, warga Paya Gupah, Kecamatan Simpang Kramat, Aceh Utara. Ia mencari anaknya, Eni Sahara, siswi SMP Negeri 1 Simpang Kramat, yang menjadi salah satu korban keracunan akibat memakan siomay yang dijual oleh pedagang keliling makanan tersebut di pekarangan sekolahnya.

    “Ka eu sigo hai, pat aneuk lon,” pintanya memelas kepada seorang pemuda sekampungnya. Ia membujuk pemuda itu mencari anaknya di antara deretan korban lainnya.

    Jeritan histeris Nurbeti mengundang perhatian paramedis yang tengah sibuk menangani puluhan murid yang keracunan.

    Beberapa paramedis dibantu petugas Satpam RS Cut Mutia, mencoba menenangkannya. Ia malah jungkir balik di lantai dalam ruangan ICU itu. Akhirnya, Nurbeti dibawa keluar dari ruangan tersebut karena dianggap mengganggu pasien lainnya.

    “Mungkin anak ibu Nurbeti itu belum tiba kemari. Dia tadi sempat dibawa ke rumah Sofyan, abang kandung si Eni Sahara,” kata pemuda yang tadi diminta tolong Nurbeti.

    Kepala SMPN 1 Simpang Kramat, Ishak, memeriksa satu per satu muridnya yang terbaring lemah. Dengan menggunakan telepon selulernya, ia merekam setiap korban. “Saya tidak bisa berkata-kata,” kata Ishak.

    Razali Yusuf, 40, salah seorang walimurid dari korban keracunan itu mengaku mengetahui anaknya telah keracunan akibat memakan siomay setelah diberitahukan oleh warga kampungnya. Kabar keracunan puluhan siswa yang menyebar begitu cepat sekonyong-konyong membuat penduduk Simpang Kramat panik.

    “Saya sedang jualan di Keude Simpang Kramat, datang warga memberitahukan anak saya keracunan, langsung saya cari ke sekolah. Saya langsung memberikan susu cap beruang kepada anak saya agar kondisinya menjadi lebih baik,” kata Razali saat ditemui di ruangan ICU RS Cut Mutia.(irs)

    Diambil dari sini

      Waktu sekarang Wed Nov 22, 2017 4:14 am